Harga Meroket Di Lotim, Pemda Gandeng Champion Cabai Untuk Datangkan Cabai dari Enrekang, Sulawesi Selatan
Nusrapost.com -- Meroketnya harga cabai di pasaran dalam
beberapa waktu terakhir akibat curah hujan yang tinggi, sementara kebutuhan
masyarakat yang tinggi selama Ramadan dan jelang Idul Fitri, membuat Pemerintah
mengambil langkah intervensi. Pemerintah membawa masuk cabai rawit merah dari
Enrekang, Sulawesi Selatan. Cabai tersebut tiba di Lombok pada Jumat (6/3).
Sekda
Lombok Timur H. Muhammad Juaini Taofik usai serah terima champion cabai di
Terminal Cargo Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (BIZAM) menyatakan
bahwa ini merupakan kerja sama bisnis (business
to business) antara champion cabai Lombok Timur dengan Enrekang sebagai
upaya stabilisasi pasokan untuk menurunkan harga, “B to B ini antara champion
cabai yang ada di Enrekang dan yang ada di Lombok Timur. Kita bantu mendekatkan
sekaligus membuat harga lebih murah dari harga yang sekarang,” ungkapnya.
Ia
menjelaskan bahwa pasokan ini akan didistribusikan langsung ke masyarakat
konsumen. Hal ini memastikan stok untuk rumah tangga aman, juga harga yang
lebih stabil, “Besok silakan ikuti, kita akan melakukan operasi pasar,
khususnya cabai di Pasar Pancor dan Taman Rinjani dan beberapa titik lainnya,
besok.” Operasi pasar ini sekaligus untuk melakukan pemantauan harga. Cabai
tersebut akan dipasarkan pada harga Rp 75 ribu/kg jauh lebih rendah disbanding
harga saat ini yang ada dikisaran Rp 120—160 ribu/kg.
Direktur
Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Rinna
Syawal menjelaskan harga cabai yang sangat tinggi dan terjadi hampir di seluruh
wilayah nusantara diantaranya disebabkan curah hujan yang tinggi. Karena itu
Satgas Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Mutu, dan Kemanan Pangan bersama
Pemda Lombok Timur difasilitasi Bapanas yang menanggung biaya transportasi,
membawa cabai dari luar daerah guna menjaga pasokan, sehingga harga jualnya
sama dengan harga dari asal cabai tersebut. “Kami dari Satgas Saber melakukan
fasilitasi distribusi pangan yang difasilitasi Bapanas membawa cabai rawit
merah dari Enrekang Sulawesi Selatan, dimana biaya transportasinya difasilitasi
oleh Bapanas, sehingga harga bisa dibeli sama dengan harga asal cabai ini,”
paparnya, “intervensi ini adalah bentuk kehadiran pemerintah, bagaimana
kemudian menstabilkan harga sehingga masyarakat bisa membeli dengan harga
terjangkau.”
Sebagai
upaya stabilisasi harga untuk jangka panjang, diharapkan pemerintah daerah
bersama petani, serta masyarakat dapat kembali meningkatkan produksi lokal. Hal
itu mengingat NTB, utamanya Lombok Timur dikenal sebagai salah satu daerah
penghasil cabai. (*)

Post a Comment