Dinilai Tidak Sesuai, Warga Tuntut Pembatalan Seleksi Kawil Di Wilayah Sakra Lotim

Dinilai Tidak Sesuai, Warga Tuntut Pembatalan Seleksi Kawil Di Wilayah Sakra Lotim



Nusrapost.com -- Puluhan masyarakat Dusun Gubuk Borok Dalem Lauk, Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, mendatangi Kantor Desa Sakra pada Senin (05/01). Kedatangan warga tersebut untuk menuntut pembatalan hasil seleksi Kepala Wilayah (Kawil) yang dinilai tidak sesuai dengan keinginan masyarakat setempat.

Masyarakat memprotes hasil seleksi yang menetapkan seorang calon dari luar Desa Sakra sebagai Kepala Wilayah. Menurut warga, mereka menginginkan dipimpin oleh masyarakat asli Sakra yang dianggap lebih memahami kondisi dan wilayah setempat.

“Kenapa orang luar yang dipilih menjadi kepala wilayah, dia kan tidak mengenal wilayah,” ujar Toni, salah satu perwakilan masyarakat, dalam orasinya.

Menanggapi tuntutan tersebut, Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Sakra, Zainul Arifin, menjelaskan bahwa proses seleksi perangkat desa telah dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 67 Tahun 2017. Ia menyebutkan bahwa persyaratan menjadi perangkat desa adalah warga negara Indonesia, memiliki KTP, serta mendapatkan dukungan minimal 10 persen dari wilayah yang bersangkutan.

“Kami hanya menjalankan aturan yang ada. Kalau mau menolak aturan, silakan, yang penting kami tetap menjalankan aturan,” kata Zainul Arifin.

Namun, dalam dialog yang berlangsung, Pjs Kepala Desa Sakra melontarkan pernyataan yang memicu emosi warga. Ia bahkan menantang masyarakat dengan ucapan yang dinilai provokatif.

“Silakan bapak bakar kantor desa ini, saya mau lihat seperti apa bapak yang mau bakar kantor,” ucapnya. Ia juga mengatakan, “Yang berani itu bukan kalian saja, saya juga berani,” yang membuat suasana semakin memanas dan hampir berujung pada tindakan kekerasan.

Toni menegaskan bahwa kedatangan masyarakat bukan untuk melakukan tindakan anarkis, melainkan menyampaikan aspirasi secara damai.

“Kami datang bukan mau anarkis, kami hanya meminta hasil seleksi perangkat desa dibatalkan. Bukan malah seperti ini, kok seorang kepala desa tiba-tiba menantang kami, masak kepala desa ajak masyarakat kelahi,” ujarnya dengan nada geram. (*)

Tags

Post a Comment