Nusra Post
Sabtu, 10 Oktober 2020, Oktober 10, 2020 WIB
Last Updated 2021-01-02T21:43:35Z
BUDAYA

Pandangan Hitam Pada Kelompok Anarko Sindikalisme

 

Aksi anarkis masa pada saat unjuk rasa (Sumber foto suara.com)


LOMBOK TIMUR- Disetiap aksi masa pasti yang hendak dijadikan kambing hitam sebagai pembenar dari sikap refresif di lapangan. Salah satu yang menjadi langganan tuduhan itu yakni kelompok Anarko Sindikalisme.

Pasti pernah terdengar kelompok Anarko Sindikisme. Unjuk rasa yang berakhir caos selalu dikaitkan dengan kelompok itu.

Kalau saja para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis Rusia di era Tsar, tidak membunuh Kaisar Alaxander II pada tahun 1881, atau juga pemuda 28 tahun tokoh anarkis Leon Czolgosz tidak brutal hingga membunuh presiden Amerika Serikat William McKinley pada September 1900, mungkin saja anarkisme hanya diterjemahkan sebagai filsafat politik belaka.  

Said Musatafa Husain, dalam Kompasiana menerangkan, filsafat anarkisme diperkenalkan Gerald Wistanle dan William Godwin pada abad ke 17. Kelompok anarkisme berpandangan ketika Tuhan menciptakan bumi, tidak terdapat satu kata pun yang diucapkan sejak awal bahwa sekelompok umat manusia berhak berkuasa atas yang lain, tapi imajinasi yang egoislah yang membuat manusia merasa dapat mengatur dan memerintah yang lain.

Gagasan Wistanle ini berpijak pada pemikiran radikal Inggris Kuno pada zaman Pemberontakan Petani (Peasants' Revolt) pada tahun 1381. Karena itu, anarkisme disebut sebagai filsafat politik yang menganjurkan masyarakat tanpa negara. Buruk memang, bagi para anarkis negara menjadi tidak diinginkan, tidak perlu, atau berbahaya.

Dikutif dari Wikipedia.org, Anarko Sindikalisme menyebutkan merupakan cabang anarkismr dari yang berkonsentrasi pada gerakan buruh. Sindikalis berasal dai bahasa prancis yang bermakna serikat buruh.

Penganut dari idiologi inilah yang disebut anarko sindikalisme. Kelompok ini berpendapat serikat buruh merupakan kekuatan yang potensial untuk menuju revolusi sosial menggantikan kapitalisme dan negara, dengan tatanan masyarakat baru yang mandiri dan demokratis oleh kelas pekerja.

Kaum ini berupaya menghapuskan sistem kerja dengan sistem upah, negara atau kepemilikan pribadi terhadap alat produksi, yang menurut mereka menuntun pada pembagian kelas.

Dilansir dari Tempo.co, Jakarta, penulis buku-buku filsafat, Martin Suryajaya menjelaskan secara ringkas tentang Anarkisme. Acara tersebut dipandu oleh Pemimpin Redaksi Historia, Bonnie Triyana.

Secara harfiah, Martin menjelaskan bahwa Anarkisme berasal dari bahasa Yunani yakni archein berarti akar. Paham ini secara umum menolak segala sesuatu yang berakar pada hierarki. Secara lebih lengkapnya, pemikiran Anarkisme lahir di abad ke-19, walau jauh sebelum era modern pemikiran sejenis sudah ada.

"Pierre-Joseph Proudhon, dia yang pertama kali mencetuskan istilah anarkis itu dalam bahasa Perancis," ujar Martin dalam acara tersebut, seperti dilansir dari Tempo.co

Masih dari kutipan yang sama, sementara Anarkisme ala Proudhon mengarah pada Sosialisme sehingga dekat dengan Marxisme. Kata Anarkisme itu sendiri pertama kali muncul dalam buku Prudhon yang berjudul What Is Property?. Walau secara pemahaman dekat, Martin berujar, Anarkisme Sosialis dan Marxisme berbeda dan justru tidak begitu akur.

Dia mengatakan, Anarkisme ala Proudhon menolak segala bentuk hierarki termasuk negara. Sementara, Karl Marx masih berpikir untuk mengambil alih negara sebagai salah satu tahap sebelum terwujudnya cita-cita dari Komunitas itu, yakni masyarakat tanpa kelas.

"Sementara Anarkisme Sosialis menganggap bahwa negara secara inheren sudah bermasalah. Kalau kita mau mengakali pun kita akan terjebak dalam logika birokrasi, hierarki dan seterusnya," ujar Martin.

Walau begitu, kata Martin, Anarkisme dan Marxisme memiliki satu kesamaan. Yakni menolak Kapitalisme.

Martin melanjutkan, perpecahan antar kedua gerakan itu secara nyata terjadi saat Anarkisme keluar dari Internasionale Pertama. Gerakan oleh para pekerja di dunia tersebut digagas oleh tokoh utama Komunisme, yaitu Karl Marx. Toko Anarkisme pada saat itu, Mikhail Alexandrovich Bakunin melakukan pemisahan terhadap Internasionale Pertama dan membuat fraksi sendiri yang dikenal dengan Federasi Jura.

Dalam kesempatan itu, Martin juga menjelaskan bahwa Anarkisme juga terbagi dalam banyak kelompok tendensi. Saking banyaknya, kata dia, muncul gerakan Anarkisme tanpa Adjektif atau tanpa embel-embel apa pun seperti Hijau atau Sosialisme.

Namun secara garis besar, varian besar Anarkisme di antaranya adalah Anarkisme Sosial atau yang juga disebut sebagai Libertarian Kiri. Kelompok ini menolak kapitalisme dan relasi kerja upahan. Ide-idenya dekat dengan Marxisme. Kelompok ini juga memiliki sub varian yang dikenal dengan nama Anarko Sindikalis

"Anarkisme Sindikalis ini kelompok yang menekankan serikat pekerja sebagai medium utama perlawanan mereka," kata Martin.

Varian besar lainnya adalah Anarko hijau, yang memiliki diskursus tentang lingkungan. Dalam rumpun kelompok ini, ada juga kelompok Anarko Primitivisme. Kelompok ini, kata Martin, menolak segala bentuk teknologi.

"Mereka kembali ke kondisi nature," kata dia.

Martin mengatakan, Anarkisme juga tidak semuanya merupakan gerakan Kiri. Di sayap Kanan, dikenal sebuah kelompok dengan nama Anarkisme Kapitalisme. Mereka mengidamkan tatanan pasar tanpa intervensi negara. Negara dianggap menindas karena mencampuri urusan pasar. "Jadi free market anarchisme," kata Martin, seperti yang dikutif dari halaman Tempo.co

Ya, belakangan kelompok ini disebut-sebut sebagai biang kerok terjadinya keurusahan pada saat aksi masa menolak Undang-Undang Cipta Kerja, Kamis 8 Oktober yang lalu. Bahkan, beberapa orang yang diamankan oleh aparat diduga merupakan pentolan dari kelompok tersebut.

Terbukti dengan berdarnya, beberapa informasi di media yang menyebutkan, terjadi bentrokan antara masa aksi dengan aparat. Yang berakibat pada luka, pembakaran, pengerusakan tempat umum, bahkan sampai ada yang disebut-sebut hilang dari peredaran. Munculnya kaum vamdalisme itu, selalu dituding sebagai aktor dalam setiap kerusuhan.

"Sebelum demo kita lakukan razia dan memang mereka ini bukan orang-orang yang mau demo, bukan orang-orang yang buruh maupun mahasiswa. Mereka ini orang-orang yang memang anarko, pengangguran semua, orang-orang jalanan itu yang kita temukan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, dilansir dari CNBC Indonesia.

Siapa sebenarnya para anarko ini? Mengapa mereka dicap sebagai tukang rusuh?

Diketahui bahwa spektrum ideologi politik terbaru dua, kanan dan kiri. Sayap kanan adalah yang menjunjung tinggi kepemilikan privat dan kapitalisme, sementara sayap kini adalah pembela keadilan sosial dan redistribusi faktor produksi kepada rakyat.

Di sisi kanan, posisi ekstrem ditempati oleh fasisme, negara menjadi penguasa dari segala penguasa. Nah, di sisi kiri paling ujung ditempati oleh anarkisme.

Ideologi anarkisme menekankan manusia pada dasarnya adalah bebas merdeka. Sejak awal manusia mengenal peradaban, derajat setiap individu adalah sama. Institusi yang kemudian membuat satu manusia merasa lebih punya kuasa dibandingkan manusia lainnya bukan sesuatu yang alamiah, tetapi merupakan konstruksi sosial yang dibuat-buat.

Oleh karena itu, anarkisme menentang institusi dan hierarki dalam segala bentuk. Termasuk negara, yang dipandang sebagai sesuatu yang tidak diinginkan, tidak penting, dan malah merugikan.

"Pembubaran negara dan gereja adalah kondisi awal untuk mewujudkan pemberdayaan rakyat. Setelah ini terjadi, maka rakyat bisa mulai melakukan reorganisasi yang dibuat bukan dengan prinsip top-down, bukan disusun oleh kekuatan diktator. Sistem yang lama pada akhirnya akan kembali menciptakan penindasan," tulis Mikhail Bakunin, salah satu peletak dasar pemikiran anarkisme, dalam tulisan berjudul Stateless Socialism: Anarchism (np)