![]() |
| Ihwan Juliwandi Sekretaris BPD Tetebatu Selatan |
Nusrapost.com -- Sekretaris BPD Tetebatu Selatan Ihwan Juliwandi menyatakan secara tegas bahwa dirinya tidak menolak keberadaan rest area kampung inggris. Namun Ia mendesak pemerintah desa untuk mencari tempat lain yang lebih tepat tanpa harus mengorbankan fasilitas pendidikan.
Menurutnya, penempatan "rest area" di lingkungan sekolah telah mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar.
"Ini menyangkut lahan pendidikan. Secara psikologis, baik guru, pegawai, maupun siswa semuanya merasa terganggu, dengan dijadikannya lahan SMPN 3 Sikur sebagai Rest Area Kampung Inggris," ujarnya. Senin (29/6/2026).
Ia membeberkan bahwa secara kelembagaan, BPD Tetebatu Selatan belum pernah melakukan pembahasan resmi terkait respon masyarakat atas pembatalan hibbah lahan ini melalui Musyawarah Internal BPD.
Sebagai Sekretaris BPD yang memiliki kewenangan administratif, ia mengaku sama sekali tidak dilibatkan dalam proses surat-menyurat yang keluar mengatasnamakan lembaga.
"Kami tidak pernah rapat internal secara kelembagaan di BPD untuk mendiskusikan masalah ini. Sebagai Sekretaris, seharusnya setiap surat yang keluar harus melalui prosedural dan sepengetahuan saya. Namun dalam masalah ini, saya sama sekali tidak pernah diarahkan atau dilibatkan," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti klaim yang menyebutkan bahwa rest area ini didukung oleh seluruh masyarakat Tetebatu Selatan. Berdasarkan fakta yang ada, pertemuan atau aksi yang terjadi hanya melibatkan segelintir warga dari wilayah tertentu.
"Di sana dikatakan mengatasnamakan masyarakat Tetebatu Selatan. Padahal yang hadir, kalau tidak salah lihat di video-video yang beredar, hanya warga dari RT 1 sampai RT 4 di bagian selatan. Sementara warga dari dusun lain seperti Sopang, Penyonggok, Otak Bangkat, hingga Lekong Pituk bagian utara tidak semuanya setuju lahan SMP ini dijadikan "rest area"," tambahnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk kritis dan mengkaji ulang status kepemilikan serta asas manfaat dari proyek Kampung Inggris tersebut. Ia menilai aktivitas Kampung Inggris saat ini sudah tidak aktif lagi, dan konsep pengembangannya dinilai telah melenceng dari komitmen awal.
"Konsep awalnya dulu, tiap wilayah dari 7 kewilayahan akan dijadikan satu camp kursus, seperti di Otak Bangkat dan Lendang Penyonggok. Tapi fakta di lapangan jauh berbeda, malah dilokalisasi di satu komplek hotel. Sekarang aktivitasnya pun sudah tidak aktif," ungkapnya.
"Pertanyaan besarnya, kepentingan siapa yang sebenarnya sedang kita bela di tanah sekolah ini? Apakah pendidikan bukan merupakan kebutuhan utama masyarakat? Sangat lucu jika logika kita terbalik, mengorbankan sekolah yang susah payah dibangun dan dipelihara hanya untuk kepentingan oknum tertentu," cetusnya.(*)



