Gedung Dewan Dipercantik Rp1,2 M, Himmah NWDI Lotim Protes: Jalan Masih Banyak Yang Rusak, Mana Skala Prioritas?

Gedung Dewan Dipercantik Rp1,2 M, Himmah NWDI Lotim Protes: Jalan Masih Banyak Yang Rusak, Mana Skala Prioritas?

Hearing Himmah NWDI Lombok Timur bersama DPRD Lombok Timur dan Dinas PUPR 

Nusrapost.com -- Sorotan tajam mengarah ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Timur. Di tengah keluhan masyarakat terkait hancurnya sejumlah akses jalan vital, para wakil rakyat justru menggelontorkan anggaran hingga Rp1,2 miliar untuk renovasi interior gedung parlemen tersebut. 

Ketua Cabang Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (Himmah NWDI) Lombok Timur, Muzanni, mempertanyakan kepekaan para pimpinan dewan dalam menyusun skala prioritas anggaran daerah. 

Menurutnya, mempercantik ruang kerja anggota dewan dinilai melukai rasa keadilan masyarakat yang setiap hari harus bertaruh nyawa melewati jalan rusak.

"Fokus pembahasan kita hari ini adalah soal skala prioritas. Antara renovasi interior gedung DPRD Lombok Timur dengan perbaikan akses jalan yang tak kunjung dilakukan. Ini yang menjadi keresahan masyarakat," cetus Muzanni usai menggelar hearing di kantor DPRD Lotim, Jumat (26/6/2026).

Muzanni membeberkan, kerusakan infrastruktur jalan di Lombok Timur sudah sangat mengkhawatirkan dan menjadi isu yang sangat sensitif bagi warga. Ia mencontohkan kondisi riil di daerah pemilihan (Dapil) 4, seperti jalur Pengadangan-Jurit- Pringgasela.

"Banyak akses jalan yang rusak dan itu sangat sensitif bagi warga. Jalur-jalur itu adalah urat nadi perekonomian dan aktivitas harian masyarakat. Kami menuntut dewan untuk melihat ini lebih serius. Jangan sampai hanya memperhatikan keindahan gedung mereka sendiri, sementara akses vital masyarakat diabaikan," tegasnya, 

Merespons itu, Ketua Komisi III DPRD Lombok Timur, Amrul Jihadi, menilai keluhan yang disampaikan masyarakat dan mahasiswa adalah hal yang wajar. Kendati demikian, ia menolak jika kebijakan rehab gedung ini disebut sebagai bentuk pengabaian terhadap infrastruktur publik.

Menurut Amrul, setiap sektor memiliki porsi dan skala prioritas masing-masing yang tidak bisa serta-merta dipertentangkan. Ia menjelaskan bahwa gedung parlemen tersebut sudah hampir 10 tahun tidak mendapatkan sentuhan perbaikan atau pemeliharaan.

"Kita tidak dalam tataran mengatakan ini lebih penting dan itu tidak penting. Kantor ini sudah tidak diperbaiki hampir 10 tahun. Anggarannya kalau tidak salah sekitar Rp1,2 miliar untuk rehabilitasi. Ini juga untuk fungsi pelayanan publik," jelas Amrul.

Ia menambahkan, perbaikan interior ini bertujuan agar masyarakat yang datang menyampaikan aspirasi maupun menggelar rapat dengar pendapat (hearing) bisa merasa nyaman. Begitu juga dengan proses birokrasi pemerintahan, mengingat gedung tersebut menjadi tempat krusial untuk membahas anggaran dan merumuskan kebijakan daerah.

Menyinggung soal jalan yang dipersoalkan, politisi dari Partai Demokrat ini mengatakan, sebenarnya ada beberapa faktor yang membuat jalan kita di Lombok Timur cepat rusak yaitu, perencanaan, pelaksanaan dan Beban jalan. Faktor terakhir, menjadi momok terbesar di Lombok Timur yang memiliki banyak titik galian batuan dan mineral (MBLB).

"Kenapa jalan di Lombok Timur cenderung lebih cepat rusak daripada jalan kota? Masalah utamanya adalah beban kendaraan yang overload. Kita ini punya banyak tambang. Truk-truk yang lewat itu melebihi kapasitas. Jalan yang harusnya hanya kuat menahan beban 8 ton, dipaksa menampung beban hingga 15 ton. Bagaimana jalan tidak cepat rusak?" beber Amrul.

Di akhir keterangannya, Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan mahasiswa untuk tidak hanya melayangkan protes setelah jalan rusak, melainkan ikut aktif mengawasi sejak proyek infrastruktur mulai dikerjakan.

"Kalau memang tidak baik, di suarakan sehingga pada saat tataran pekerjaan bisa diperbaiki, Itu lebih penting. Mari kita sama-sama jaga infrastruktur kita mulai dari pengawasan pada saat dikerjakan"tutupnya (*)

Tags

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment