Gubernur NTB: WTP Saja Tidak Cukup, Birokrasi Harus Lincah
Nusrapost.com -- Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu
Muhamad Iqbal, menyampaikan penjelasan terhadap Rancangan Peraturan Daerah
(Raperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 dalam
Rapat Paripurna DPRD Provinsi NTB, Senin (22/6/2026), di Kantor Gubernur NTB.
Dalam rapat tersebut, Gubernur Iqbal menekankan pentingnya perubahan orientasi
pemerintahan, dari sekadar tertib administrasi menuju tata kelola yang berfokus
pada substansi, kinerja, dan dampak nyata bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal menyampaikan apresiasi
kepada pimpinan dan anggota DPRD Provinsi NTB atas masukan, pemikiran, dan
kritik konstruktif yang selama ini diberikan kepada pemerintah daerah.
Menurutnya, berbagai masukan tersebut menjadi bekal penting untuk memperkuat
langkah-langkah pembenahan pemerintahan ke depan.
“Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada pimpinan dan
anggota dewan yang secara rutin memberikan masukan, pemikiran, baik secara
resmi maupun dalam komunikasi sehari-hari. Banyak hal baru yang menjadi
tantangan bagi kami, dan itu semua akan memperkuat upaya-upaya kami ke depan,”
ujar Gubernur Iqbal.
Gubernur Iqbal mengakui bahwa hingga saat ini birokrasi
pemerintahan masih cenderung terlalu fokus pada aspek administratif, sementara
substansi pelayanan publik sering kali belum menjadi orientasi utama. Padahal,
menurutnya, administrasi seharusnya menjadi alat untuk melayani substansi,
bukan justru menghambat tujuan pembangunan.
“Selama ini birokrasi kita masih terlalu fokus pada
administrasi, belum sepenuhnya pada substansi. Kadang-kadang substansi harus
kalah, tujuan harus kalah, karena alasan administratif. Padahal seharusnya
administrasilah yang melayani substansi, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Karena itu, Gubernur Iqbal menilai pemerintahan ke depan
harus lebih lincah, adaptif, dan memiliki agility dalam merespons perubahan
yang sangat cepat. Ia menegaskan, pemerintah tidak bisa lagi hanya bekerja
dengan pola lama yang terlalu kaku dan prosedural.
“Perubahan terjadi sangat cepat. Kalau kita hanya fokus pada
administrasi, kita tidak akan pernah mampu menyesuaikan diri dengan dinamika
yang terjadi. Kita membutuhkan pemerintahan yang agile, pemerintahan yang
lincah, adaptif, dan mampu bergerak cepat,” katanya.
Gubernur Iqbal juga memperkenalkan pendekatan coherent
government, yaitu pemerintahan yang dijalankan secara terintegrasi, efektif,
dan berorientasi pada pelayanan. Menurutnya, pemerintah harus bekerja layaknya
organisasi modern yang menempatkan masyarakat sebagai pihak utama yang harus
dilayani.
“Pemerintahan ini harus dijalankan dengan orientasi
pelayanan. Kita harus sadar siapa yang kita layani, siapa customer kita, dan
kepada siapa seluruh kerja-kerja pemerintah ini ditujukan. Jawabannya adalah
rakyat. Karena itu, fokus utama kita haruslah pelayanan kepada masyarakat,”
ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Iqbal juga menegaskan
bahwa keterbatasan fiskal daerah menuntut pemerintah untuk melakukan refocusing
program dan anggaran. Karena itu, pemerintah provinsi bersama DPRD diharapkan
dapat menyelaraskan perencanaan dan penganggaran agar lebih terfokus pada
agenda-agenda prioritas.
Ia menyebutkan bahwa arah kebijakan pembangunan NTB ke depan
akan difokuskan pada tiga pilar utama, yakni penanganan kemiskinan, ketahanan
pangan, dan pariwisata. Ketiga sektor ini, kata Gubernur Iqbal, akan menjadi
penggerak utama pembangunan daerah, sementara sektor-sektor lainnya harus
dirancang untuk menopang dan memperkuat pencapaian tiga prioritas tersebut.
“Kita butuh refocusing. Karena itu kami mendorong agar kamus
program dan menu kegiatan segera dituntaskan, sehingga pembahasan bersama DPRD
menjadi lebih mudah dan semua program yang dirancang bisa selaras dengan visi
pemerintahan. Pada akhirnya, kita ingin seluruh anggaran mengerucut pada tiga
pilar utama, yaitu penanganan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pariwisata,”
jelasnya.
Ia menggambarkan ketiga sektor prioritas itu sebagai formasi
utama dalam pembangunan daerah, sementara sektor lainnya berfungsi sebagai
pendukung untuk memastikan tujuan pembangunan tercapai secara bersama-sama.
Menurut Gubernur Iqbal, kejelasan fokus program dan anggaran
juga penting agar masyarakat dapat dengan mudah membaca arah kebijakan
pemerintah. Ia ingin peta anggaran daerah benar-benar mencerminkan prioritas
pembangunan yang telah disepakati bersama antara eksekutif dan legislatif.
“Kita perlu menjelaskan arah program dan arah anggaran
secara lebih terang, supaya masyarakat bisa melihat dengan mudah bahwa anggaran
kita benar-benar fokus pada hal-hal yang menjadi prioritas bersama,” ujarnya.
Dalam penjelasannya terhadap Raperda pertanggungjawaban APBD
2025, Gubernur Iqbal juga menyoroti capaian opini Wajar Tanpa Pengecualian
(WTP) yang kembali diraih Pemerintah Provinsi NTB. Menurutnya, keberhasilan
mempertahankan opini WTP patut disyukuri, namun tidak boleh membuat pemerintah
merasa puas berlebihan.
Ia menegaskan bahwa opini WTP pada dasarnya menunjukkan
bahwa pengelolaan keuangan daerah telah memenuhi ketentuan secara administratif
dan akuntansi. Namun demikian, WTP belum otomatis menggambarkan kualitas
kinerja maupun dampak substansial pembangunan terhadap masyarakat.
“Saya ingin menggarisbawahi bahwa ini jangan sampai membuat
kita bangga berlebihan dan puas berlebihan. WTP itu baru menunjukkan bahwa kita
benar secara administratif. Sementara pertanyaan apakah kita sudah benar secara
substansi, apakah kinerja kita sudah benar-benar berdampak, itu adalah soal
lain yang tidak sepenuhnya dijelaskan oleh WTP,” tegas Gubernur.
Karena itu, pemerintah daerah ke depan ingin memastikan
bahwa tata kelola keuangan tidak hanya baik dari sisi administrasi, tetapi juga
kuat dari sisi kinerja dan manfaatnya bagi masyarakat.
“Harapan kita ke depan bukan hanya WTP, tetapi juga
bagaimana kinerja kita bagus, substansinya bagus, dan hasil pembangunan
benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Gubernur Iqbal secara terbuka mengakui bahwa birokrasi di
lingkungan Pemerintah Provinsi NTB saat ini masih belum cukup lincah dalam
menghadapi perubahan. Menurutnya, budaya kerja birokrasi selama ini masih
terlalu terbiasa dengan rutinitas administrasi, sementara orientasi terhadap
tujuan pembangunan jangka panjang belum sepenuhnya tertanam.
“Saya harus mengakui bahwa hingga saat ini birokrasi di
lingkungan pemerintah provinsi masih belum memiliki agility, belum cukup luwes,
belum cukup agile. Karena yang terlalu lama dipelajari adalah administrasi,
bukan substansi pembangunan. Ini yang sedang kami benahi,” katanya.
Ia pun meminta dukungan dari DPRD NTB agar proses pembenahan
birokrasi dan reformasi tata kelola pemerintahan dapat berjalan lebih cepat dan
efektif. Menurutnya, perubahan tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh
eksekutif tanpa dukungan legislatif.
“Kami sedang berubah, kami sedang berbenah. Karena itu kami
mohon bantuan dan dukungan dari Bapak-Ibu sekalian di DPRD. Pembenahan ini
tidak akan berhasil tanpa dukungan dan peran dari legislatif,” ujar Iqbal.
Ia menambahkan, semangat pembenahan tersebut harus menjadi
gerakan bersama antara eksekutif dan legislatif, karena pemerintahan pada
hakikatnya dijalankan oleh keduanya secara bersamaan.
“Pemerintahan hari ini bukan hanya eksekutif, tetapi
eksekutif dan legislatif. Kalau kita berdua berbenah bersama, insyaallah tiga
pilar program yang kita cita-citakan akan bisa terwujud,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi NTB, Baiq Isvie Rupaeda,
dalam pandangannya menegaskan pentingnya perubahan paradigma dalam tata kelola
pemerintahan daerah agar pembangunan tidak lagi sekadar diukur dari serapan
anggaran dan ketebalan laporan administratif, melainkan dari dampak nyata yang
dirasakan masyarakat.
Baiq Isvie mengatakan, rapat paripurna bukan sekadar forum
formal antara eksekutif dan legislatif, tetapi ruang pertanggungjawaban moral,
evaluasi peradaban, sekaligus refleksi atas sejauh mana amanah rakyat telah
ditunaikan melalui kebijakan, program, dan penganggaran daerah.
“APBD bukan hanya kumpulan angka. Di dalamnya ada kerja
keras rakyat, harapan petani, nelayan, guru, tenaga kesehatan, hingga generasi
muda NTB yang menunggu ruang tumbuh, ruang berkarya, dan masa depan yang lebih
baik,” kata Baiq Isvie.
Baiq Isvie menekankan bahwa ukuran keberhasilan pemerintah
tidak cukup hanya dilihat dari besarnya anggaran yang terserap, tetapi sejauh
mana anggaran tersebut mampu menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan
rakyat. Pembangunan dinilai bermakna ketika layanan publik semakin mudah, usaha
masyarakat berkembang, pendidikan membaik, kesehatan semakin terjangkau, dan
kesejahteraan meningkat.
Dalam forum itu, Baiq Isvie juga menyampaikan apresiasi atas
ikhtiar Pemerintah Provinsi NTB dalam mengelola pemerintahan sepanjang Tahun
Anggaran 2025. Namun demikian, DPRD menilai tantangan pembangunan ke depan
semakin kompleks, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, disrupsi teknologi,
perubahan sosial yang cepat, kesenjangan kualitas sumber daya manusia, hingga
meningkatnya ekspektasi publik terhadap kualitas layanan pemerintah.
Karena itu, DPRD menilai NTB membutuhkan mindset switching
dalam tata kelola pembangunan. Paradigma lama yang hanya berorientasi pada
serapan anggaran, kepatuhan prosedural, dan laporan administratif dinilai sudah
tidak lagi memadai. Pemerintahan ke depan harus bergerak dari sekadar
government spending menuju public value creation, dari administrative
management menuju strategic impact leadership, serta dari pola kerja business
as usual menuju budaya entrepreneurial excellence.
Konsep itu disebut DPRD sebagai Entrepreneurial Mindset
Excellence Mainstreaming, yakni cara berpikir birokrasi yang lebih adaptif,
cepat membaca perubahan, berani mengambil keputusan, mampu menciptakan solusi,
dan kuat dalam orientasi hasil. Menurut DPRD, pola pikir ini tidak berarti
semua aparatur harus menjadi pebisnis, melainkan menumbuhkan mentalitas
kepemimpinan yang inovatif, problem solving, dan memiliki rasa kepemilikan yang
kuat terhadap penyelesaian persoalan publik.
“Birokrasi masa depan tidak cukup hanya bekerja berdasarkan
SOP. Birokrasi harus adaptif, agile, inovatif, dan memiliki ownership mindset
yang kuat. Aparatur tidak boleh hanya bertanya ‘apa tugas saya’, tetapi harus
berpikir ‘apa solusi terbaik untuk rakyat’,” tegas Baiq Isvie.
Baiq Isvie juga menekankan perlunya pejabat publik yang
tidak hanya sibuk mengelola program, tetapi mampu melahirkan dampak.
Pembangunan, menurut DPRD, tidak cukup berhenti pada output, tetapi harus
bergerak ke outcome hingga impact. Untuk itu, critical thinking dinilai harus
menjadi arus utama pembangunan NTB ke depan.
Lebih lanjut, Baiq Isvie menegaskan bahwa pembangunan yang
berhasil bukanlah pembangunan yang hanya tumbuh dalam laporan statistik,
melainkan pembangunan yang hidup dalam pengalaman sehari-hari masyarakat.
Ketika rakyat merasakan pelayanan semakin mudah, pendidikan semakin baik,
kesehatan semakin terjangkau, dan peluang ekonomi semakin terbuka, maka di
situlah pembangunan menemukan maknanya.
Dalam rapat tersebut, Baiq Isvie juga menekankan pentingnya
kemitraan yang sehat antara eksekutif dan legislatif. Kedua lembaga disebut
sebagai dua pilar penting tata kelola daerah yang tidak hadir untuk saling
berhadapan, melainkan saling menguatkan dan menyempurnakan. DPRD menegaskan
akan terus menjalankan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan secara
objektif, kritis, namun tetap konstruktif demi memastikan kebijakan daerah
benar-benar berpihak kepada rakyat.
Menutup pandangannya, DPRD menyatakan bahwa NTB adalah
daerah yang kaya potensi, kaya sumber daya, kaya semangat, dan kaya masa depan.
Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian untuk berpikir besar,
bekerja cerdas, bergerak cepat, dan mengeksekusi program pembangunan dengan
excellence.
“Jika keberanian itu dimiliki bersama, maka NTB tidak hanya
akan tumbuh, tetapi melompat,” tutup Baiq Isvie.(*)

Post a Comment