Kaos Sablon Karya Warga Binaan Lapas Selong Kini Bisa Dipesan Lewat Shopee

Kaos Sablon Karya Warga Binaan Lapas Selong Kini Bisa Dipesan Lewat Shopee

Gamal Masfhur Kasibinadik dan Giat Lapas Selong Lombok Timur 

Nusrapost.com -- Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong, Lombok Timur, terus berkomitmen untuk memberikan bekal nyata bagi para warga binaan. Melalui berbagai program pembinaan kemandirian, Lapas Selong berupaya memantapkan keterampilan warga binaan agar memiliki talenta produktif saat kembali ke tengah masyarakat kelak.

Saat ini, salah satu unit usaha yang tengah di kembangkan adalah produksi Sablon manual. Produk kaos hasil karya warga binaan ini bahkan telah banyak di pesanan oleh berbagai pihak.

Melihat potensi pasar, Lapas Selong kini mulai merambah dunia digital untuk memperluas jangkauan pemasaran. Masyarakat umum kini bisa membeli langsung produk berkualitas ini secara online.

"Kami sudah mencoba membuka akun resmi di platform e-commerce Shopee dengan nama akun sablon Sel 199. Jadi, masyarakat sekarang bisa langsung memesan produk kaos kami di sana," ungkap Kasi Binadik dan Giat Lapas Selong Gamal Masfhur saat di konfirmasi Rabu (3/6/2026).

Tidak hanya di ranah online, strategi pemasaran offline juga digencarkan melalui kerja sama di berbagai lokasi, seperti di depan Kantor Wilayah (Kanwil) hukum, tepatnya di gerai milik Imigrasi, kemudian di Kantor Imigrasi Lombok Timur. Di tempat itu, baru-baru ini kembali menambah pasokan barang karena stok sebelumnya telah habis terjual. Lapas Selong tidak hanya menjual kaos jadi, tetapi juga menerima pesanan kostum sesuai keinginan pelanggan.

"Konsumen bisa memesan desain khusus. Sistemnya, kita buatkan desain sablonnya terlebih dahulu, lalu dikonfirmasi ke pemesan. Jika sudah cocok, baru kita cetak di sini," jelasnya.

Selain itu, lanjut Gamal pihaknya juga menerima jasa sablon. Baru-baru ini ada pihak sekolah yang membawa kaos sendiri dan mempercayakan proses penyablonannya kepada warga binaan Lapas Selong. Tujuan utama dari pembangunan unit usaha ini untuk pemberdayaan. Sebab menggunakan teknik sablon manual, modal dan peralatan yang dibutuhkan nanti setelah warga binaan bebas, relatif terjangkau, sehingga sangat cocok dipraktikkan sebagai usaha mandiri di rumah.

"Saat ini tercatat ada sekitar 6 orang warga binaan yang terlibat aktif di dalam Lapas. Sementara itu, sudah ada sekitar 4 orang alumni warga binaan yang telah bebas dan membawa pulang keterampilan ini ke masyarakat,"katanya.

Lanjut dijelaskan Gamal, program ini tidak hanya memberikan modal keterampilan. Namun selama proses produksi di dalam Lapas, para warga binaan juga mendapatkan haknya berupa premi, yang di berikan dari total pemasukan sebesar 15%.

"Ini dikembalikan langsung kepada warga binaan sebagai tabungan atau pemasukan mereka selama menjalani masa tahanan,"jelasnya.

Untuk menambah unit usaha, kedepan kata Gamal, pihaknya telah merancang beberapa program seperti, Bengkel, unit usaha Es Kopi dan lainnya. Persiapan ke arah sana pun sudah matang. 

khusus Barista sejumlah warga binaan telah mendapatkan pelatihan intensif mengenai dunia barista, baik yang difasilitasi oleh Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat maupun dari mitra profesional luar.

"Melalui pelatihan ini, para warga binaan kini telah mengantongi sertifikat resmi sebagai Barista profesional. Beberapa di antara mereka yang memiliki keahlian meracik kopi ini bahkan masih berada di dalam Lapas dan siap membuka usaha baru ini, dalam waktu dekat,"tutupnya. (*)


Tags

Post a Comment